Di Alor, Mahasiswa Demo Desak Polisi Segera Tahan Kepala BMKG Alor

  • Whatsapp

Kalabahi, N9 — Kelompok mahasiswa yang tergabung dalam Aliansi Pemerhati Perempuan dan Anak Kabupaten Alor melakukan aksi demonstrasi di Kantor Kepolisian Resor (Polres) Alor, Selasa, (11/8/20). Aksi demo ini terkait kasus dugaan persetubuhan terhadap anak dibawah umur yang melibatkan Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG) berinisial AB, di rumah dinasnya di kompleks Bandar Udara Mali belum lama ini.

Bacaan Lainnya

Mahasiswa pendemo mendesak polisi segera mengusut tuntas kasus itu. Mereka mempertanyakan kenapa kasus tersebut sudah dilaporkan ke polisi sejak tanggal 14 Juli 2020 lalu, namun sampai saat ini terduga pelaku AB belum juga ditahan. Aksi demo ini dibawah koordinir Aldi Daud Mooy.

“Kami minta polisi segera mengusut tuntas kasus dugaan persetubuhan terhadap anak dibawah umur yang melibatkan Kepala BMKG Alor, AB bersama seorang stafnya. Polisi harus tindak tegas juga terhadap seorang perempuan yang diduga sebagai mucikari dalam kasus ini agar ada keadilan bagi korban dan juga masyarakat sipil. Kami minta dengan tegas hukum tidak boleh tajam ke bawah dan tumpul ke atas,” tegas Immawan Wens Lau, Ketua Ikatan Mahasiswa Pulau Pantar (IMP2) dalam orasinya.

Immawan mempertanyakan kenapa kasus yang melibatkan pejabat publik penanganannya terkesan lambat. “Kenapa sampai saat ini polisi belum melakukan penahanan terhadap pelaku?. Ada apa dengan kasus ini? Polisi harus profesional mengusut kasus ini, karena anak dibawah umur adalah generasi harapan bangsa dan negara,” tandasnya lagi.

Pernyataan orasi yang sama juga disampaikan peserta demo lain, Nona Salsa. Ia mengajak masyarakat sipil khususnya kaum perempuan untuk sama-sama mengawal proses hukum kasus yang melibatkan pejabat publik.

“Kami mengutuk keras tindakan kejahatan yang dilakukan oknum pejabat terhadap anak dibawah umur. Harga diri dan martabat kaum perempuan tidak boleh diinjak-injak. Kami minta polisi segera melakukan penahanan terhadap oknum-oknum yang diduga terlibat dalam kasus human tracfiking. Seharusnya mereka jadi pelindung bagi anak-anak dibawah umur dan bukan justru sebaliknya. Masa depan anak-anak harus diselamatkan,” tegas Nona Salsa.

Berikut pernyataan sikap mahasiswa terkait kronologi kejadian: Pada Juli 2020, seorang ibu inisial LS, yang merupakan ibu salah satu korban, melaporkan dugaan prostitusi dan persetubuhan yang dilakukan terhadap 3 orang anak dibawah umur yang terjadi dirumah dinas Kepala BMKG Alor. Berdasarkan laporan tersebut, dan hasil penyelidikan yang dilakukan dengan mengambil keterangan saksi korban, maka telah menghasilkan 5 nama lain yang diuduga terlibat dalam kasus prostitusi dan persetubuhan terhadap 3 anak dibawah umur.

Kelima oknum tersebut yakni, salah satu AB yang merupakan Kepala BMKG Alor, seorang staf dan seorang “Mami” (sebutan untuk mucikari penyalur korban kepada terlapor), dan 2 orang terlapor lainnya. Terungkapnya kejadian ini bermula dari LS, ibu korban yang mencurigai anaknya yang menurutnya berbeda sikap, sehingga meminta paman korban untuk mencari tahu dan membuntuti korban.

Paman korban kemudian mencaritahu korban dan melihat korban berada di rumah Kepala BMKG Alor. Ia merasa curiga dan menelepon ibu korban dan kemudian memintanya datang ke rumah kepala BMKG Alor. Ibu korban yang mendapat informasi dari paman korban bergegas menuju ke lokasi yang dimaksud. Paman korban yang tidak sabar menunggu kedatangan ibu korban mengetuk pintu rumah kepala BMKG Alor dan dibukakan pintunya oleh Kepala BMKG Alor. Ia bertanya mengenai keperluan paman Korban.

Paman korban kemudian meneriakan nama korban dan Kepala BMKG juga ikut memanggil korban. Korban yang tidak tahu kedatangan pamannya berjalan keluar dari kamar, paman korban yang melihat korban keluar dari kamar semakin naik pitam sehingga terjadi perdebatan antara paman korban dan kepala BMKG.

Sepupu korban yang juga merupakan salah satu korban yang berada dilokasi kejadian merasa takut dan mengajak saudaranya untuk menjauh dari lokasi. Namun saat ibu korban sampai di lokasi anak – anak tersebut sudah berada di dalam rumah kepala BMKG dan dikelilingi oleh beberapa keluarganya yang marah, sedih dan kecewa. Ibu korban tiba dilokasi dan melihat keadaan seperti itu, berusaha sekuat tenaga menahan gejolak.

Ia bertanya kepada korban bagaimana mereka bisa mengenal kepala BMKG dan berada dirumahnya, kemudian korban secara serempak menyebutkan nama
“mami” sang mucikari dan menjelaskan bahwa “mami” yang memperkenalkan dan mengantar mereka kerumah Kepala BMKG. Ibu korban pun bertanya berkali-kali untuk memastikan keterangan yang didengarnya, setelah dia yakin, ibu korban bertanya alamat tempat tinggal “mami”.

Para korban pun dapat memberitahu alamat “mami” dan ibu korban yang naik pitam pun pergi ke alamat yang diberikan dan menemui “mami” dan mempertanyakan semuanya. Namum “mami” menyangkali segala tuduhan yang ditujukan kepadanya, sehingga ibu korban dan “mami” pergi ke kantor polisi.

Sampai di kantor polisi, “mami” pun tetap menyangkal tuduhan tersebut dan meminta anak- anak korban dihadirkan untuk memberikan keterangan langsung dipolisi.

Ibu korban pun meminta keluarganya untuk mengantarkan anak – anak korban ke kantor polisi. Pada saat sampai di kantor polisi keterangan yang diberikan korban sama dengan keterangan yang disampaikan saat berada dirumah kepala BMKG Alor. Selain itu ketiga saksi korban juga menyampaikan bahwa mereka telah diantar oleh “Mami” beberapa kali untuk “diperdagangkan” bahkan ketiga saksi korban juga memberikan keterangan bahwa diduga kuat terdapat 4 oknum yang terlibat dan menjadi “klien” mami, yang kepada mereka mami tersebut pernah mengantarkan ketiga saksi korban untuk melakukan persetubuhan dan ada klien yang memberikan iming-imingan hadiah HP, diajak makan, dan para klien memberikan uang Rp. 500 ribu kepada mami, lalu mami memberikan kepada korban Rp. 200 ribu.

4 oknum yang diakui saksi korban sebagai klien mami yang menurut pengakuan saksi korban telah melakukan persetubuhan dengan mereka yakni Kepala BMKG Alor, AB, sorang staf BMKG yang sekaligus biasanya bertugas mengantar dan menjemput mami bersama saksi korban, dan 2 orang pria yang diduga merupakan aparat. Setelah selesai menjawab pertanyaan penyidik, ketiga saksi korban kemudian diantar oleh anggota kepolisian di dampingi ibu korban pergi kerumah sakit untuk melakukan visum.

Kapolres Alor AKBP Agustinus Chrismas Tri Suryanto, SIK saat menerima masa aliansi demo menjelaskan, polisi sedang menangani kasus tersebut. Menurut Kapolres, kasus yang diduga melibatkan Kepala BMKG Alor ini statusnya sudah dinaikkan ke tahap penyidikan setelah sebelumnya masih tahap penyelidikan.

Pantauan wartawan, aksi demo berlangsung di tiga titik. Yakni di Perempatan Jalan Lapangan Mini Kalabahi dan Kantor Polres Alor di Kelurahan Kalabahi Kota Kecamatan Teluk Mutiara. Aksi demo berlanjut di Kantor Bupati dan Kantor DPRD Alor di Batu Nirwala.

Ia berjanji, dalam dua minggu kedepan berkasnya sudah bisa rampung dan diserahkan ke Kejaksaan Alor. “Saya juga minta adik-adik mahasiswa mari kita kawal bersama proses hukum yang sedang dilakukan polisi. Memang kasus ini sedikit lambat karena polisi harus kumpul alat bukti,” ungkap Kapolres Alor.

Seperti diberitakan sebelumnya media online Timor Daily.Com Kepala BMKG Kabupaten Alor, AB yang namanya juga dilaporkan dalam kasus itu ketika dikonfirmasi Selasa (28/7/2020) membenarkan dirinya telah di periksa Polisi.

Menurut AB, dirinya dalam kasus ini juga merupakan korban, karena dirinya sepertinya dijebak. “Ceriteranya panjang. Saya sebagai orang tua membantu anak tersebut. Tapi sepertinya dijebak. Kita ikuti saja kasus ini,” tandas AB singkat.*(Joka)

Hits: 710

Pos terkait