Seruan Melawan Korupsi Di Malaka?

  • Whatsapp

Oleh: John German Seran

Korupsi. Kata ini menjadi begitu familiar hampir di seluruh kalangan masyarakat di Republik ini pasca runtuhnya Orde Baru yang digantikan oleh Orde Reformasi. Korupsi menjadi seuatu yang sedemikian dibenci sehingga membangkitkan rasa marah di dalam hati setiap orang untuk berteriak melawan hal ini: Korupsi. Dimana-mana orang berteriak lawan korupsi, tidak terkecuali warga Malaka sebagai bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia. Apakah salah?

Bacaan Lainnya

Tentu tidak. Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 telah secara jelas menjamin hak dan kemerdekaan setiap warga negara untuk berpendapat menyuarakan kebaikan bersama dan menentang apa yang menghalangi kebaikan bersama. Lantas, apa persoalannya?

Di suatu sudut sebuah kota, seorang pria berdiri sigap sambil menghunuskan sebilah pedang. Ketika dia makan atau tidur, dia akan segera bangkit dan mengambil posisi sigap seperti semula. Pedang dihunus. Mata sigap mengawasi dan mulutnya akan komat-kamit mengungkapkan kata-kata ini: “Kau masih berani ganggu saya, saya putuskan lehermu”. Kebiasaan pria itu berlangsung bertahun-tahun. Tetapi nyata bahwa tidak ada apapun atau siapapun yang mengganggu dirinya.

Itu kisah Don Salvator, seorang pria asal Spanyol yang saban hari berjuang melawan “musuh”nya. Siapa musun Don Salvator? Adalah Viegas, sahabat karib Don Salvator yang ingin menguasai seluruh harta milik Don Salvator. Berbagai cara dilakukan Viegas untuk mencapai tujuannya. Diantaranya percobaan pembunuhan yang dilakukan terhadap Salvator dan isterinya, berikut semua anak-anak yang menjadi ahli warisnya.

Rencana tersebut dijalankan. Hanya saja, Don Salvator berhasil meloloskan diri dari kepungan Viegas dan komplotannya, walaupun isteri dan dua orang anaknya tidak selamat dari amukkan nafsu serakah Viegas. Dan sejak saat itu, Don Salvator pergi menempati tempatnya di sudut kota itu. Dia selalu menghunuskan pedangnya untuk menyerang Viegas dan komplotannya. Walaupun nyata bahwa Viegas dan kawan-kawannya sudah dieksekusi mati oleh pengadilan setempat.

Kembali ke pokok permasalahan kita: Seruan Anti Korupsi Di Malaka? Sebagai salah satu Anak yang lahir dari Rahim Tanah Malaka, sama seperti anda semua, saya sangat mengharapkan semua hal berjalan dengan baik sehingga ‘Halo Malaka Ba Oin” (harafiah: menjadikan Malaka terdepan – baca: memajukan Malaka). Dan tentu pula, saya tidak mengharapkan kehadiran hal-hal yang mau merusak cita-cita luhur: Halo Malaka Ba Oin, salah satunya adalah korupsi.

Pertanyaannya, ada Korupsi di Malaka? Korupsi atau rasuah (bahasa Latin:  corruptio dari kata kerja corrumpere yang bermakna busuk, rusak, menggoyahkan, memutarbalik, menyogok) adalah tindakan pejabat publik, baik politisi maupun pegawai negeri, serta pihak lain yang terlibat dalam tindakan itu yang secara tidak wajar dan tidak legal  menyalahgunakan kepercayaan publik yang dikuasakan kepada mereka untuk mendapatkan keuntungan sepihak.

Dari sudut pandang hukum, tindak pidana korupsi secara garis besar memenuhi unsur-unsur, antara lain perbuatan melawan hukum. Karena itu, maka terhadap korupsi juga berlaku Asas Hukum yang sama, yaitu pikiran dasar yang terdapat dalam hukum konkret atau diluar peraturan hukum konkret. Dan salah satu asas hukum yang dianut di negara kita adalah PRESUMTION OF INNOCENCE atau
“Praduga tak bersalah”, dimana seseorang tidak dapat dinyatakan bersalah apabila belum diputus pengadilan atau memiliki kekuatan hukum yang sah. Pertanyaannya, apakah ada korupsi di Malaka ketika belum ada pelaku yang dinyatakan bersalah karena melakukan korupsi?

Lantas, Seruan Melawan Korupsi di Malaka? Tentu hal itu syah dan wajar-wajar saja jika disuarakan dalam konteks mencegah tetapi akan menjadi rancu ketika disuarakan dalam konteks memberantas. Sebab bagaimana bisa memberantas sesuatu yang belum (tentu) ada? Apakah itu tidak sama dengan seorang petani yang menyemprotkan herbisida di tanah yang tidak berumput atau berbelukar? Atau seperti Don Salvator yang selalu siaga dengan pedangnya untuk menyerang Viegas yang sudah dihukum mati tahun-tahun sebelumnya?

Apalagi dikatakan Korupsi di Malaka “tertinggi” di NTT? Jika mengatakan korupsi di Malaka tertinggi harusnya bisa menyandingkan berapa pelaku yang sudah dihukum di Malaka dan 21 Kabupaten Kota lainnnya, juga instansi-instansi lain yang ada di NTT sehingga tidak ada kesan bahwa publik Malaka sedang diracuni pikiran dan akal sehatnya. Apalagi, ini adalah tahun-tahun poltik yang mana Bupati yang sedang memerintah terlibat dalam perhelatan politik. Akan menjadi sangat tidak santun jika membuang isu tanpa bisa menyajikan data yang valid.

Apalagi, kata korupsi itu langsung ditujukan kepada petahana. Benar, karena jabatannya, seorang Bupati punya tanggung jawab untuk mengontrol seluruh bawahannya. Apakah seorang ayah menginginkan anaknya menjadi pencuri? Tentu tidak. Dan seorang ayah yang demikian akan mendidik dan mengawasi anaknya supaya tidak mencuri. Tetapi kenapa masih ada saja kasus hukum pencurian? Dan kalau ketika seorang anak mencuri, apakah ayahnya harus dihukum (diganti) karena bersalah? Orang tidak perlu membakar lumbung untuk membunuh tikus di dalam lumbung. Mari kita cegah korupsi.* (Pemred Nusantara9.com)

Hits: 41

Pos terkait