Gong Dan Gendang Harus Dipukul Supaya Hasilkan Nada-Nada Indah

  • Whatsapp

Judul di atas merupakan sebuah pepatah kuno orang Melayu yang biasanya digunakan untuk memberikan motivasi kepada anak – anak atau muda – mudi atau orang yang sedang berjuang untuk melewati suatu tantangan hidup. Secara sederhana, pepatah itu mengandung didikan agar manusia selalu memaknai segala tantangan atau cobaan apapun secara positif.

Bacaan Lainnya

Saya teringat akan pepatah tersebut ketika pada pagi hari kemarin saya dikirimi sebuah video berisi tantangan atau cobaan bagi Pasangan Calon (Paslon) Bupati dan Wakil Bupati Malaka Periode 2021-2026 Nomor Urut 2, dr. Stefanus Bria Seran, MPH dan Wendelinus Taolin, SE (SBS-WT) bersama seluruh Tim Pemenangannya. Isi dari video tersebut tidak lain adalah Deklarasi menolak kampanye dan atribut kampanye Paslon SBS-WT oleh kelompok tertentu di Kamanasa, Kecamatan Malaka Tengah.

Waduh!? Menolak? Belum kampanye saja sudah ditolak. Ini tentunya merupakan sebuah tantangan atau cobaan mahaberat. Nyali, Militansi dan Kecerdasan Paslon SBS-WT dan Timnya tentu diuji di sini. Berani kampanye di Kamanasa setelah ditolak secara berani pada H-1?

Gong Dan Gendang Harus Dipukul Supaya Hasilkan Nada-Nada Indah. Rupanya Paslon dan Tim SBS-WT berpegang teguh pada pepatah ini. Dan rupanya Paslon serta Tim SBS-WT adalah pejuang-pejuang tangguh, yang menganggap wajar ketika berhadapan dengan amukan badai atau pengembara-pengembara tangguh yang tak pernah keluh naik turun gunung.

Tantangan yang disampaikan secara terbuka dan berani tidak menyurutkan langkah kaki SBS-WT dan Tim untuk mengayunkan langkah, mendatangi untuk saling menyapa dari hati ke hati denngan para saudara di Kamanasa. Dorongan apa dibalik keberanian SBS-WT dan Tim untuk datang jua, walau ditantang secara terang-terangan dan berani?

Dalam terang ajaran iman Kristiani, dikenal ceritera tentang gembala yang baik, yang dapat kita temukan dalam Injil Yohanes 10:1-21. Dalam ayat 11 dan 12 dapat kita baca: “Akulah Gembala yang baik. Gembala yang baik memberikan nyawanya bagi domba – dombanya, sedangkan seorang upahan yang bukan gembala, dan yang bukan pemilik domba-domba itu sendiri, ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu.

SBS-WT dan Tim tidak menghindari tantangan tersebut karena SBS-WT adalah gembala yang baik, yang tidak lain adalah pemilik atas domba-domba itu. Mereka harus datang, walaupun serigala-serigala buas sedang menerkam domba-domba untuk dimangsa. Mereka tidak lari dari tantangan seperti orang-orang upahan.

Dan terbukti. Sore ini, Sabtu 17 Oktober 2020, Paslon dan Tim SBS-WT telah membuktikan diri sebagai gembala yang baik, yang datang untuk menyelamatkan domba-dombanya. Atau dalam konteks pepatah di atas, Paslon dan Tim SBS-WT telah membuktikan diri sebagai seniman-seniman berbakat, yang mengubah pukulan-pukulan pada gong dan gendang menjadi nada-nada indah.

Ya, di Kamanasa, di 2 tempat berbeda: Fatisin dan Maubesi, pukulan yang dilakukan secara “keras” dan “Lantang”, telah dirobah oleh Paslon dan Tim SBS-WT menjadi alunan nada-nada indah: Kami semua bersaudara dan tak ada yang mampu melarang kami untuk menari bersama alunan indah nada-nada itu.*(Malaka, 17-10-2020 – JoGer N9)

Hits: 342

Pos terkait